Jumat, 31 Januari 2025

Perempuan di Gerbang Abu

"Hai, G"

Aku tahu sapaan yang kamu lontarkan adalah gerbang bagimu. Gerbang untuk semua rangkaian kalimat yang terpendam lama dalam dirimu. Aku tak tahu entah sudah berapa lama dirimu tenggelam dalam kenyataan yang kau pilih. Aku tak lagi pernah menghitung sudah berapa lama gerbangmu kau tutup. Meski demikian, aku tahu bahwa kau sesungguhnya tak akan pernah lupa. Bahwa dirmu masih ada.

"Kamu datang?"

Sederhana. Tak banyak yang bisa aku balas. Sesederhana dirimu biasanya. Perlahan langkahmu masuk, memulai semua yang lama kamu tinggalkan. Ada rasa haru samar-samar yang aku rasakan. Tatapmu sayu, tapi tanpa ragu. 

Aku paham betul sesungguhnya kamu hanya ingin didengarkan. Seperti biasanya kamu aku dengarkan. Aku perhatikan matamu lekat-lekat. Tak banyak berubah. Hanya saja kamu nampak makin bersahaja. Langkahmu perlahan. Senyummu tertaut semakin lembut. Apa karena lamanya kenyataan menempamu di luar sana?

Aku tak berani menghakimi apapun itu, karena aku hanya akan mendengarkanmu. 

"Kamu tak banyak berubah"

Meski usia mulai menempa tubuhmu. Tapi aku sangat tahu bagaimana pikiran, perasaan dan hatimu. Aku yakini itu. Diam mu berbicara padaku. Ada kisah yang ingin kamu simpan. Kisah tentang rindumu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar