Denting yang berbunyi dari samping telingaku membuatku menoleh dengan segera. Gerimis masih saja sama meski langit tak sepenuhnya bersuara. Angin mengantarku pada gambaran yang tak sepenuhnya aku anggap benar. Aku tak menyangka akan melihat gambaran yang sedemikian janggal dari mataku. Seharusnya rumput hijau, langit membiru. Nampaknya mereka semua bersembunyi entah dimana.
Padang rumput tak seharusnya berahasia. Namun tidak selamanya berlaku sama.
Ada satu sudut yang menjadi pembeda. Ternyata warna berkumpul disana. Menyemai, menyelubungi sosok menawan yang seperti sedang tertawan. Ada yang aneh, seharusnya gambar langit dan rumput menjadi segar tapi apa ini? Kemuraman apa ini? Warna tak lantas menjadikannya ceria. Aku perhatikan tata letak sudut-sudut merunut sebentuk cerita yang ingin menjawab dahagaku terhadapnya. Tapi tak juga bisa aku temukan. Ia masih disana, menunduk dengan kesendirian. Lekuk indah kursi yang menyangganya. Tertata apik lilin cantik di atas meja mewahnya. Ini nampak ganjil. Meja dan kursi ini tak layak berada disini. Ditempat yang janggal semuram ini.
Seandainya saja, ada suara yang bisa lantang mengantarkan padamu. Mungkin sudah aku bangunkan kamu dari sudutmu. Membuyarkan semua yang menyelubungimu. Sekalipun mereka berusaha mengembalikan gairah kepadamu, tapi cerita ingin beralur lain. Mereka tak satupun mampu menyemaimu. Muram masih saja ada di dekatmu. Sepertinya, ini ruang tunggumu. Tempat kau mengabaikan hingar bingar dunia dan kehidupanmu. Tempat yang kau kunjungi dalam rindu yang selalu menghantuimu. Telah lamakah lelah kau buang di tempat ini? Aku penasaran. Sungguh. Karena ini menjadi janggal
lembaran pesawat-pesawat kertas.. di rentang waktu yang tak terukur dalam ruang.. tanpa nama.. tanpa irama.. |pss
Senin, 17 November 2014
Senin, 10 November 2014
Tautan
Denting gelas beradu di sebelah telingaku. Lantunan musik lambat melambat dalam telinga. Tak pernah lagi aku bertanya dan mengetuk kenangan yang pernah aku simpan lama. Tak pula pernah aku terka apa yang akan dihadapkan pada detik berikutnya. Di sudut ruangan yang aku pilih menjadi tempat paling nyaman dan menyenangkan. Membuat batas dari hingar bingar lautan manusia yang mulai memamerkan keakuannya. Aku cukup lelah karenanya. Menyamarkan keberadaan menjadi bagian dari ritual yang sangat aku sukai. Sehingga bisa aku puaskan diri meneguk irama lagu yang dilantunkan. Dan begitulah malam ini ingin aku lewatkan.
Suara langkah mulai mengusik mataku. Memejam aku biarkan lalu, sambil berharap tak akan ada yang merusak kesenanganku dengan hening. Tapi malam menyuguhkan hidangan istimewa untuk ku jadikan hadiah. Suaranya mulai merusak kesenanganku.
Aku bangkit berdiri, meninggalkan kesenanganku dalam sunyi yang telah dirusaknya.
Aku tak ingin akhir yang seperti ini. Jangan suguhkan keraguan yang begitu jelas terpampang di depan mataku. Aku tak mengenalnya dalam keraguan. Aku tak menginginkannya menghadiahi ku kebingungan. Sebagian dalam kepalaku mulaai bertentangan. Tautan jari yang erat ini harusnya tak pernah jadi seperti ini. Tidak dalam keadaan sekarang. Ini menggambarkan kepadaku betapa tinggi keakuannya. Pun setelah panjang waktu menutupinya dari mataku. Menutupi telinganya dariku. Aku ingin bersama nyamanku, sekali lagi. Jika kali inipun ingin dijadikan singkat lepaskan saja ini dengan segera. Aku terlalu lelah untuk menebak bisu yang selalu dia bawa. Aku terlalu lelah mengertikan tautan jari yang ia genggam begitu erat.
Suara langkah mulai mengusik mataku. Memejam aku biarkan lalu, sambil berharap tak akan ada yang merusak kesenanganku dengan hening. Tapi malam menyuguhkan hidangan istimewa untuk ku jadikan hadiah. Suaranya mulai merusak kesenanganku.
"Pesanlah apa saja, biar kali ini aku yang mentraktirmu. Pesanlah. Apa saja."Ku sunggingkan senyum simpul seperti biasanya. Jelas nampak wajahnya sedikit berubah kini. Setelah beberapa tahun menutupinya dari mataku, telingaku. Malam ini ia ada dihadapanku. Kalimatku ingin sekali keluar. Ingin aku katakan aku tak pernah menginginkan apa-apa darinya. Tidak pula malam ini. Pun jika seandainya malam ini ulang tahunku. Tak pernah ada hadiah yang ingin aku minta darinya.
Aku bangkit berdiri, meninggalkan kesenanganku dalam sunyi yang telah dirusaknya.
"Aku akan pulang dan segera berkemas. Aku belum sempat berkemas."Singkat aku katakan padanya. Sesingkat cerita yang pernah aku tuliskan dulu. Seperti kisah-kisah dalam sinetron yang pernah aku tonton. Dia bangkit berdiri dan mengejarku dengan segera. Memegangi jariku dengan erat. Sangat-sangat erat. Kata-kata seperti ditransfer begitu saja dalam kepalaku. Aku paham. Matanya, meski memandang kosong ke depan tapi langkahnya tetap menuntunku menyebrangi jalanan. Memapah langkahku dengan genggamannya. Aku terpaku pada jarinya. Jari itu masih saja sama. Jari yang juga pernah menuntunku menapaki lorong dan koridor panjang. Lalu bisakah kata-kata dan kalimatku ini ditransfer ke dalam kepalanya sehingga tak perlu aku berteriak lantang tentang kebingunganku. Adakah pertanyaan-pertanyaan ini akan disampaikan dalam tautan jemarinya? Sehingga tak perlu lagi aku melafalkan dalam kecanggungan yang serta merta menyergapku.
Aku tak ingin akhir yang seperti ini. Jangan suguhkan keraguan yang begitu jelas terpampang di depan mataku. Aku tak mengenalnya dalam keraguan. Aku tak menginginkannya menghadiahi ku kebingungan. Sebagian dalam kepalaku mulaai bertentangan. Tautan jari yang erat ini harusnya tak pernah jadi seperti ini. Tidak dalam keadaan sekarang. Ini menggambarkan kepadaku betapa tinggi keakuannya. Pun setelah panjang waktu menutupinya dari mataku. Menutupi telinganya dariku. Aku ingin bersama nyamanku, sekali lagi. Jika kali inipun ingin dijadikan singkat lepaskan saja ini dengan segera. Aku terlalu lelah untuk menebak bisu yang selalu dia bawa. Aku terlalu lelah mengertikan tautan jari yang ia genggam begitu erat.
Rabu, 20 Agustus 2014
Perempuan dan Lamunan
Di senja yang segera beranjak pulang, kau pernah bercerita padaku. Dalam diam yang selalu menemanimu selalu kau utarakan betapa kagum matamu terhadapnya. Aku masih saja heran, entah apa yang sesungguhnya merasukimu, kau selalu berkata bahwa dia menjadikanmu manusia. Bahwa dia yang menunjukkan dunia padamu. Dalam sudut pandanganku bahkan, dia yang sama sekali tak menunjukkan peduli padamu, dia yang selalu menyiakanmu. Tidakkah cukup itu untuk membuatmu berhenti menunggui senja berulang?
Jika aku ditempatkan dalam ruang yang kau tempati sekarang, ruang yang hanya menapak pada pengabdian, aku mungkin akan segera melarikan diriku. Membenamkan segalanya tentang dia dalam kolam. Jikapun naluriku masih bersisa, aku mungkin akan membunuh segala yang tersisa dalam cacian dan umpatan. Bagaimana tidak? Dunia bahkan kini mulai bercampur aduk di sekelilingmu. Bukankah resah yang selama ini kamu pangku dalam pengabdianmu. Aku benar-benar tak bisa mengerti.
Aku selalu memperhatikan lamunanmu kian dalam. Matamu tak pernah kosong. Senyum yang selalu kau persembahkan. Tak akan ada yang bisa menebak tentang apa yang kau persembahkan. Juga untuk siapa dalam lingkaran ini yang kau persembahkan. Satu kali ingin sekali aku membangunkanmu. Ini dunia, bukan lagi mimpi. Sudahi segala upayamu untuk mengabdikan dirimu pada entah apa.
Senyummu selalu mengembang, kau selalu tertawa kecil saat aku dengan kebingunganku terhadap dirimu. Adakah itu cukup untuk membuatkanmu bukti tentang keberadaanku? semoga saja.
Jika aku ditempatkan dalam ruang yang kau tempati sekarang, ruang yang hanya menapak pada pengabdian, aku mungkin akan segera melarikan diriku. Membenamkan segalanya tentang dia dalam kolam. Jikapun naluriku masih bersisa, aku mungkin akan membunuh segala yang tersisa dalam cacian dan umpatan. Bagaimana tidak? Dunia bahkan kini mulai bercampur aduk di sekelilingmu. Bukankah resah yang selama ini kamu pangku dalam pengabdianmu. Aku benar-benar tak bisa mengerti.
Aku selalu memperhatikan lamunanmu kian dalam. Matamu tak pernah kosong. Senyum yang selalu kau persembahkan. Tak akan ada yang bisa menebak tentang apa yang kau persembahkan. Juga untuk siapa dalam lingkaran ini yang kau persembahkan. Satu kali ingin sekali aku membangunkanmu. Ini dunia, bukan lagi mimpi. Sudahi segala upayamu untuk mengabdikan dirimu pada entah apa.
"Kamu tak akan paham. Aku bisa jadi telah disebut gila. Kau juga demikian bukan? Kau tak akan bisa paham. Suatu hari nanti kau pasti melihatnya. Hari ini, aku hanya akan berserah, pada angin yang selalu meniupi rambutku. Pada udara yang menempati segala ruang dalam paru-paruku. Ini pengabdianku, pembayaranku, tentang apa yang memang telah dituliskan padaku."Aku bahkan tak bisa meneriakimu. Terlampau halus yang ada dalam benakmu. Terlalu tulus apa yang ada dalam wajahmu. Aku pernah berjanji akan selalu bersamamu. Dia pun begitu. Tapi kau menunjukkan padaku, bahkan tulus dan pengabdian yang kau serahkan tak cukup untuk membuat dia bertahan. Sekelebat lalu aku berpikir bahwa kau benar-benar wanita yang bodoh. Tapi apa yang kau tunjukan tentang pengabdianmu ini, membuatku tersadar ada yang kokoh di dalam sana.
Senyummu selalu mengembang, kau selalu tertawa kecil saat aku dengan kebingunganku terhadap dirimu. Adakah itu cukup untuk membuatkanmu bukti tentang keberadaanku? semoga saja.
"Aku ingin sekali berkata padanya, salah satu janjiku telah aku tepati. Telah aku selesaikan apa yang pernah dia mandatkan padaku dulu. Kau mungkin tak tahu. Sama seperti tak mau tahu nya dia, tapi apapun itu, aku telah menjalankan mandat yang pernah diutarakan. Kau tahu, aku sungguh sangat lega, melihat akhirnya janji itu aku tepati. Kau mungkin berpikir aku tak seharusnya lagi berusaha apa-apa tentang hal itu. Tentu saja, tapi janjiku adalah pembayaranku."Kau pun mungkin tak pernah tahu, aku selalu terenyuh dengan ketulusanmu. Jika aku menjadi sebagian saja dalam dirimu, mungkin sudah aku kerahkan segala upayaku untuk menggerakkan otot-ototku untuk memukulinya, menghancurkan apa yang tersisa dalam dadaku tentang dirinya. Sungguh aku terenyuh melihatmu. bukan tentang iba. Aku kagum pada kegigihanmu. Mereka yang tak melihatmu terjatuh bisa saja beranggapan bahwa aku berlebihan. Mereka yang tak ada di ruang saat malam, bisa saja menyebutmu lemah. Tapi tidak dimataku. Aku ada disana. Aku melihatnya. Karena sampai sekarangpun aku masih menemanimu, aku tahu apa yang harus kau tanamkan pada dirimu. Aku sangat tahu, bagaimana caramu mendamaikan segala peperangan dalam dirimu. Dan itu membuatku selalu bertanya-tanya, tidakkah itu membuatmu penuh sesak? Tidakkah itu memenjarakanmu dalam kegundahan?
"Suatu hari nanti, aku sangat berharap dia akan merasakannya. Angin akan aku titipkan setengahnya. Seperti saat terdahulu. Aku, hanya ingin menjadikan apa yang aku rasa sejernih embun yang selalu aku tangkap dalam mataku. Aku hanya berusaha menjaga, apa yang aku rasa terhadapnya, agar tidak sedikitpun ternoda oleh kedengkian. Kau mungkin tahu bagaimana aku bertahan dalam mendamaikan diriku. Membuang tangis yang hanya akan menjatuhkanku. Apa aku telah membuatmu lelah? Semoga saja tidak, karena aku masih dan akan selalu membutuhkanmu disampingku."
Senin, 04 Agustus 2014
Kamis, 24 Juli 2014
Minggu, 06 Juli 2014
Jumat, 30 Mei 2014
Surat Untuk, D.
Untuk D.
Matahari meninggi. Bagaimana keadaanmu? Adakah hujan menyapamu lagi?
Agaknya ribuan doa telah terakumulasi di dalam kotaknya. Pandora yang sedari dulu kamu, dan aku simpan dalam benak kita (*semoga masih ada 'kita'). Tak pernah aku bayangkan, bahwa hujan akan menyapa kita bersamaan. Saat beberapa tahun lalu yang mampu aku kenang dalam benakku hanyalah kata-kata.
Aku tak begitu pandai untuk berucap terimakasih pada waktu. Karena ia mengantarkan aku pada sebuah titik dimana aku dapat bersamamu. Aku terlalu takut untuk mengharap itu kepada waktu. Sungguh, aku merasa lancang untuk meminta banyak untuk diriku.
Aku merasa terpisah dari diriku, entah mulai kapan itu terjadi. Tapi beberapa hari ini, aku merasa kamu telah menjagaku. Dalam pelarianku terhadap diriku, kamu menjagaku. Aku merasa sangat berharga berada disampingmu. Kamu mungkin tak akan pernah menangkapnya, ungkapan yang kadang keluar tak jelas dari mulutku. Tapi kamu mendengarnya. Hal itu sangat berharga untukku. Seperti saat kamu duduk dan memandangi senja bersamaku. Tak pernah sekalipun aku membayangkan akan ada senja yang begitu berbeda dalam benakku. Tapi sore itu, aku benar-benar merasai keberadaanmu. Adakah kamu juga merasai hal semacam itu?
Aku dibuat lupa sejenak tentang pelarianku. Tentang resah yang selalu menghantuiku, tentang bosan yang segera membunuhku. Kamu, yang lompat tak jelas arah dihadapanku. Tersenyum tak karuan di sebelah sudut mataku, dan kamu yang menarik sembarangan hidungku, kamu, yang membuatku bersama lupa. Adakah kamu penasaran?
Malam setelah kepergianmu, aku dibuat tersadar bahwa betapa sayangnya Tuhan padaku, pada kamu. Dibuatkannya sebuah titik untuk kita. Memberikan jeda pada alur yang ia buatkan. Sekedar untuk dapat menggandeng tanganmu. Memerhatikan gerak jalanmu.
Dan,, D.
Aku sungguh-sungguh tersentak, ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul dalam dadaku. Menerima bahwa ini hanya akan kamu jadikan mimpi. Tapi, memang benar katamu, ini harus dijadikan mimpi yang terlalu indah untuk dibuat jadi nyata. Aku, juga kamu punya kewajiban lebih besar dari sekedar menyampaikan kerinduan yang lama kita simpan. Kewajiban untuk menjaga lebih banyak hati di sekitar kita.
itu adalah kenyataanya. Saat subuh aku terjaga, memilah-milah apa yang harus aku perbuat selanjutnya. dan sampai sekarang aku tak benar-benar mendapatkan jawaban. Hanya saja, aku akan mengikuti caramu berpikir tentang mereka yang kita sayangi. Aku hanya bisa bangkit, dan menjalankan semuanya seperti biasanya.
Tapi, ada hal yang sekiranya aku harapkan untuk kamu tahu. Aku akan sangat merindukan saat jemari kita bertaut. Aku akan jadi sangat rindu saat hujan menjadikan kita basah kuyup. Dan aku akan jadi sangat rindu saat kamu melompat dan mendengarkanku menontoni senja.
D,
Dimana pun keberadaanku setelah ini, aku akan tetap ditempatku. Aku pernah janjikan itu padamu. Aku tetap di tempatku.
Matahari meninggi. Bagaimana keadaanmu? Adakah hujan menyapamu lagi?
Agaknya ribuan doa telah terakumulasi di dalam kotaknya. Pandora yang sedari dulu kamu, dan aku simpan dalam benak kita (*semoga masih ada 'kita'). Tak pernah aku bayangkan, bahwa hujan akan menyapa kita bersamaan. Saat beberapa tahun lalu yang mampu aku kenang dalam benakku hanyalah kata-kata.
Aku tak begitu pandai untuk berucap terimakasih pada waktu. Karena ia mengantarkan aku pada sebuah titik dimana aku dapat bersamamu. Aku terlalu takut untuk mengharap itu kepada waktu. Sungguh, aku merasa lancang untuk meminta banyak untuk diriku.
Aku merasa terpisah dari diriku, entah mulai kapan itu terjadi. Tapi beberapa hari ini, aku merasa kamu telah menjagaku. Dalam pelarianku terhadap diriku, kamu menjagaku. Aku merasa sangat berharga berada disampingmu. Kamu mungkin tak akan pernah menangkapnya, ungkapan yang kadang keluar tak jelas dari mulutku. Tapi kamu mendengarnya. Hal itu sangat berharga untukku. Seperti saat kamu duduk dan memandangi senja bersamaku. Tak pernah sekalipun aku membayangkan akan ada senja yang begitu berbeda dalam benakku. Tapi sore itu, aku benar-benar merasai keberadaanmu. Adakah kamu juga merasai hal semacam itu?
Aku dibuat lupa sejenak tentang pelarianku. Tentang resah yang selalu menghantuiku, tentang bosan yang segera membunuhku. Kamu, yang lompat tak jelas arah dihadapanku. Tersenyum tak karuan di sebelah sudut mataku, dan kamu yang menarik sembarangan hidungku, kamu, yang membuatku bersama lupa. Adakah kamu penasaran?
Malam setelah kepergianmu, aku dibuat tersadar bahwa betapa sayangnya Tuhan padaku, pada kamu. Dibuatkannya sebuah titik untuk kita. Memberikan jeda pada alur yang ia buatkan. Sekedar untuk dapat menggandeng tanganmu. Memerhatikan gerak jalanmu.
Dan,, D.
Aku sungguh-sungguh tersentak, ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul dalam dadaku. Menerima bahwa ini hanya akan kamu jadikan mimpi. Tapi, memang benar katamu, ini harus dijadikan mimpi yang terlalu indah untuk dibuat jadi nyata. Aku, juga kamu punya kewajiban lebih besar dari sekedar menyampaikan kerinduan yang lama kita simpan. Kewajiban untuk menjaga lebih banyak hati di sekitar kita.
itu adalah kenyataanya. Saat subuh aku terjaga, memilah-milah apa yang harus aku perbuat selanjutnya. dan sampai sekarang aku tak benar-benar mendapatkan jawaban. Hanya saja, aku akan mengikuti caramu berpikir tentang mereka yang kita sayangi. Aku hanya bisa bangkit, dan menjalankan semuanya seperti biasanya.
Tapi, ada hal yang sekiranya aku harapkan untuk kamu tahu. Aku akan sangat merindukan saat jemari kita bertaut. Aku akan jadi sangat rindu saat hujan menjadikan kita basah kuyup. Dan aku akan jadi sangat rindu saat kamu melompat dan mendengarkanku menontoni senja.
![]() |
| Kamu ingat tempat ini, D? ini akan selalu ada dalam ingatanku, seperti juga keberadaanmu di kursi itu... |
D,
Dimana pun keberadaanku setelah ini, aku akan tetap ditempatku. Aku pernah janjikan itu padamu. Aku tetap di tempatku.
Langganan:
Postingan (Atom)










.jpg)
.jpg)




.jpg)
