Rabu, 21 Mei 2014

Embun

Malam selalu gelap saat dia memandangi cermin dalam kosong. Suara-suara tak lalu membuatnya gaduh. Ada banyak bayangan yang melayang meliuk-liuk berlomba untuk tampil di depan matanya. Tak sedikitpun ada rasa takut di wajahnya. Selimut tetap menutupi kedua kaki hingga batas dadanya. Ada kalanya ia berharap, selimut itu akan mampu meembuat hatinya bersembunyi untuk waktu yang lama. Seperti induk ayam yang sedang mengerami telurnya. Sekiranya dalam waktu tertentu, hatinya akan keluar dan tumbuh lagi menjadi hati yang baru.

Embun masih saja mengingat-ngingat tentang sebuah masa yang pernah ia lalui dalam selang yang telah berlangsung lama. Nafasnya tak lagi ia tahan. Beberapa kali bahkan ia hembuskan panjang, sepanjang lipatan memori yang selalu coba ia bentangkan. Perlahan-lahan ia gerakan tangan dan jarinya. Menggapai-gapai ruang dalam kosong. Mencoba meraih sisa masa yang mungkin disimpan oleh gelap dalam kamarnya. Beberapa waktu terakhir, itu menjadi hal yang ia sukai. Beradu dalam gelap membuatnyaa nyaman. Mendengarkan sekecil-kecilnya suara yang ada. Memilah-milah pikiran yang ia punya. Satu-satunya hal yang masih ia punya.

Ia telah, pada akhirnya, merasai kehilangan. Seperti kelereng yang melesat cepat dari tangan dan tak sempat untuk ia tangkap. Orang lain tak akan paham sebagaimana gelap membantunya mengerti tentang diri. Tidak juga akan ada yang melihatnya, sebagaimana gelap selalu memeluknya nyaman. Memberinya ruang untu sekedar melepas sesal yang tak tertahankan. Betapa tidak, Embun teramat menyesalinya. Ada kalimat-kalimat yang hanya akan meluncur ketika ia berhadapan dengan gelap. Ada tangis yang akan seketika pecah saat ia dipeluk erat oleh ingatan. Tapi ia, masih berusaha untuk tetap dalam keadaan tersadar bahwa ia, Embun.

"Katanya, aku adalah embun. Yang sedianya menyejukkan ditiap tempat yang aku singgahi. Adakah memang demikian? Mungkin memang harusnya demikian." Katanya pada gelap suatu kali.
Berulang kali ia ingatkan dirinya demikian. Berlaku selayaknya air, meneduhkan dahaga di tiap tanah kering yang ia lalui. Tapi, sadar atau tidak, air tak pernah berdiam lama pada tempatnya. Takdir yang hanya menjadi pembawa menjadikannya sebentuk lambang penerimaan.
"Lalu bagaimana sekarang? Bahkan waktu telah membawaku dalam arus yang terlalu jauh, terlalu panjang dan juga dalam. Seandainya saja, sedikit saja aku bergerak cepat, berlaku dan bila perlu mengikatnya untuk tetap bisa aku pertahankan ditempat ini, mungkin tak akan terasa menyesakkan begini. Seandainya saja, waktu itu tidak ada kata 'baiklah', mungkin aku masih ditempatnya. Meneduhkan meski tanahnya tak lagi pecah tak berarah. Seandainya saja, mungkin jari-jari ini tak hanya menggapai-gapai masa yang kau sisakan untuku. Seandainya saja...seandainya saja..."
Satu-satunya hal yang membuat matanya bisa memejam bersama malam. Satu-satunya arah yang ia tahu tak akan membuatnya berlari lalu kelelahan. Dan satu-satunya hal yang membuat Embun masih saja berlalu menunggui waktu. Seandainya..

Rabu, 07 Mei 2014

Key

"Sepertinya alam ingin berbicara kepadaku."
Ia membatin. Buku itu bahkan masih ada ditangannya, ia lanjutkan matanya menjelajah kata-kata dalam halaman berikutnya. Tak banyak yang ia pikirkan. Telah lama ia berhenti untuk merasa penasaran. menebak-nebak jawaban yang hanya akan berujung pada pertanyaan. Ia hanya terbiasa membatin sendirian. Apa mau dikata, sekalipun ia bercerita, apa yang harus ia ceritakan? lalu kepada siapa  adalah pertanyaan selanjutnya yang akan muncul.

Key, seorang gadis biasa. Terlahir dalam lingkungan biasa. Dalam takaran biasa yang bisa ia pahami. Tapi Tuhan tak pernah mencipta hal yang 'biasa'. Ada batas yang sangat tipis dengan 'istimewa'.  Ada rentang panjang yang menjadikan ia sebagaimana wanita biasa. Pemikiran dan juga penerimaan yang menjadikan ia menonjol dalam lingkup pergaulannya. Kegemarannya pada senja menjadikan dirinya seperti selalu terisi dalam tiap celahnya.
Ya. dia sangat suka senja.
Jangan pernah bertanya kenapa dia suka senja. Meski gemuruh kadang menyembunyikannya.
"Agaknya dunia ini mulai terasa sempit. Aku tak tahu sesungguhnya mesti menemukan apa."
Kata Key suatu kali pada seorang kawannya. Satu-satunya titik yang mampu ia percaya.
Suatu kali dalam ruang yang singkat. Sesingkat ia belajar mengedipkan matanya. Ia pernah terjatuh lalu terluka.
Ada begitu banyak teriakan di sekelilingnya. Tapi Key hanya peduli pada perkiraannya. Ia ceritakan betapa perih luka di kakinya menganga. Mungkin ia tak akan berjalan untuk sementara.

Tak pernah ia bayangkan sebegitu perih saat ia terluka. Tak banyak yang tahu dan hanya menebak-nebak saja. Itu yang membuat matanya mulai berubah arah. Jika bisa dibayangkan, seperti bohlam yang segera habis masanya untuk menyala. Ada ribuan kata yang ia layangkan diudara. Ia titipkan kepada kawan-kawannya tentang betapa ia tak apa-apa. Lukanya tak lagi apa-apa.
"Kau tahu, kenapa aku sangat suka senja? Suatu hari aku pernah membaca sajak tentang senja. itu bukanlah tentang hal yang menyenangkan. Di dalam baitnya aku membaca, bahwa senja hanyalah ujung dari masa. Bahwa senja adalah hari saat nanti ia menua."
"Dan kenapa aku suka senja? Karena senja adalah masa dari usia. Ujung yang membuka. Akhir dari lelah yang meniada. Aku suka karena itu buatannya. Aku suka karena kata-kata dalam sajaknya."

Sebuah pengakuan yang sesungguhnya sangat runyam. Kawannya tak akan pernah menyangkal satu pun dari apa yang diakuinya. Karena mereka tahu, Key dan keyakinanya. Seperti saat ia bercerita tentang angin yang sering ada di telinganya. Tentang betapa percayanya dia bahwa alam selalu menjaganya. Sama seperti percayanya ia tentang alasan kenapa mesti ada pertemuan dalam ruang.
"Aku percaya segalanya memiliki tujuan untuk ada. Mungkin aku hanya harus menyelesaikan sebentuk pembayaran. Itu saja."
Puluhan lembar surat telah ia tuliskan, dan puluhan kali pula urung ia kirimkan. Karena ia bahkan tak pernah tahu alamat yang mesti ia cantumkan.
Tak ada satupun yang mendapat balasan. Tidak seperti yang dia bayangkan. Saat sebuah tanda yang membawanya pada arah angin yang segera meniada. Kepadanya yang telah menjadi sosok yang seperti senja. Pertemuan sekali lagi datang tanpa Key minta. Kepada dia, pemilik mata senja.


 Saat itu, senja meniada. Duduk di sebuah kursi kayu, Key hanya memandang sekeliling saat malam mulai menyingkap sebuah ketidaknyamanan. Tanpa sentuhan, atau kalimat-kalimat panjang. Tak ada kata manis yang menebar diudara.
"Kita duduk disini saja." kata-kata terlontar begitu saja dari mulutnya kepada yang lain.
"Boleh kami bergabung? Tak keberatan kan?" lalu menoleh kepadanya.
Seulas senyum tanda Key mengiyakan. Sebegitu lihainya Tuhan berahasia. Hingga tak pernah ia sangka, bahwa mata yang Key lihat saat itu adalah mata senja. Senjanya.
Ada ketidaksengajaan dan juga kewaspadaan dalam tiap kata yang Key lontarkan pada rombongan itu. Kelompok yang akhirnya membuatkan selubung tipis dengan puluhan pasang mata malam dari nya.

Seperti arus air yang senantiasa mengalir juga meneduhkan pada tiap tempat yang ia singgahi. Tepat dan begitu pula Key saat ini. Ia mulai mengadukannya, kepada yang memperlihatkan senja padanya. Ia mulai memohon kepada yang memperlihatkan mata senja kepadanya. Kepada yang selalu menebarkan rahasia besar tentang hidup.
"Aku bertemu dengan senja, dalam matanya. Kau tahu, ia bahkan jauh melampauiku. meski ada banyak sekali terikan di telingaku. Aku melihatnya, senja, dalam matanya."  
Kata Key dalam sebuah suratnya.
"Entah kenapa aku sangat suka. Aku  tahu, senja bahkan berwarna kemerahan. Mungkin karena ia sangat menyilaukan, aku merasakan penasaran untuk selalu dapat memandanginya. "
 Malam mulai berganti-ganti. Key dan si mata senja mulai mengisi kosong dalam tiap celah.

"Aku sedang mendengarkan sebait lagu kesukaanku. Apa kau tahu lagu itu? Lagu tentang kesediaan untuk menjadi sebuah akhir dalam sebuah penantian."
Kalimat yang pernah ia dengarkan suatu malam. Kalimat yang membuat Key tak pernah ragu. Satu dari puluhan sajak yang telah ia bagikan. Itu sangat ia suka. Selama ini belum ada yang pernah Key perlihatkan bahwa ia gadis biasa. Gadis yang juga pernah bermimpi, tentang awan dan langit biru, tentang bunga-bunga indah.
Perlahan, keberanian mulai ia kenal. Lalu ia kenalkan kepada si pemilik mata senja. Meski tak sekalipun pernah ia ucapkan selain dalam surat-suratnya.
"Aku menyukaimu bukan karena apa yang kamu miliki hari ini. Tapi karena kamu adalah kamu. Dan kamu juga keberadaanmu. Akan ada banyak teriakan di telingaku tapi bukan berarti akan membuatku berhenti. Aku melihatmu, dengan caraku. Cara yang berbeda dari mata orang lain. Mereka mungkin tak mampu melihatmu, karena mereka tak pernah bisa melihatnya dalam matamu. mereka tak pernah melihat, senja. Kamu dan senja dalam matamu. Jika aku mampu, aku ingin sekali menjaga senja dalam matamu."
Lalu Key menyisipkan titik pada akhir kalimat dalam suratnya. 

Kamis, 24 April 2014

Tentang Titik (Dot)

suatu kali, saya pernah dikenalkan pada lukisan. itu adalah kali pertama saya tahu lukisan. saat pertama saya melihat, itu hanyalah sebuah gambar yang cerah ceria. seperti ruangan untuk anak TK yang penuh dengan titik-titik yang meriah dan berwarna. saya diberitahu bahwa namanya adalah Yayoi Kusama. seorang maestro lukisan dari Jepang. dijelaskanlah kepada saya bahwa, dia sangat kagum dengan Yayoi. mengagumi proses yang dialaminya hingga menjadi seorang maestro lukisan. ada sebuah prinsip yang dijelaskan kepada saya, bahwa menurut Yayoi, titik (dot) itu memiliki nyawa.

sesungguhnya saat itu saya tidaklah begitu paham, tapi hanya menyimak apa yang dijelaskan. memang rasanya gambar yang disuguhkan di layar itu menarik, entah dari mananya. sampai sekarangpun saya masih terpikir "titik (dot) memiliki nyawa". adakah itu mirip dengan pemahaman yang ada di kepala saya bahwa sesunggunya, semua hal berhubungan dengan 'lingkaran'. titik(dot) sangat dekat dengan lingkaran sepertinya.

jika saya pilah sekarang, mulai dari titik awal itulah, mata saya mulai terbuka. tentang ada dunia yang jauh lebih luas dari dunia tentang menamatkan pendidikan, lalu bekerja untuk mendapatkan uang dan melangsungkan hidup dengan makan. dimulai dari sebuah kesempatan sederhana yang dia berikan kepada saya, yang dia kenalkan kepada saya bahwa hidup ada makna yang lebih luas. bahwa ada jalan yang bermacam-macam, ada tikungan yang beragam.

sudahkah kamu menemukan dirimu sekarang, wahai kamu?

Rabu, 16 April 2014

Kami Berbeda

Perlahan-lahan saya mulai mengatur emosi, mengumpulkan dan memilah emosi saat itu. Karena saya tersadar, emosi bisa disebabkan oleh hal dan tujuan yang berbeda. Semisal saat saya menuliskan ini, adalah saat saya baru saja meringkuk dalam kamar gelap. Sepanjang perjalanan yang saya lalui tadi menjadi sederetan kisah yang dipilah-pilah oleh kenangan saya tentang hal-hal yang membekas. Yang paling teringat saat itu adalah tentang bagaimana sebuah kalimat terlontar dari mulut orang dekat saya.
"suatu hari nanti kalau kamu menikah, aku tak akan menghadirinya. dan begitu pula saat aku menikah, aku tak akan memintamu hadir." "kenapa?" "aku hanya tak ingin ada penyesalan diantara kita dan berpikir  'seharusnya aku yang berada disana bersamamu'."
Kala ia mengucapkannya adalah saat dimana kami telah disadarkan oleh keadaan bahwa kami memang 'berbeda' kelahiran. Kami sama-sama sepakat untuk menyudahi berlari bersama ikatan yang jelas-jelas tak akan bisa dipertahankan. Saya selalu percaya akan ada ruang tersendiri yang tak akan bisa digantikan apapun dalam diri saya, untuk dia. Kadang kala saya menjadi terheran-heran dengan diri sendiri, bukan kah hal semacam itu, bodoh namanya. Bagaimana tidak, itu justru akan menyiksa diri saya sendiri.

Saya tidak pernah menyesalkan telah dilahirkan menjadi seorang Hindu, pun begitu dengan dia, yang tak pernah menyesal dilahirkan sebagai Kristen. Hanya saja, ego terkadang membuat saya merasa marah terhadap keadaan, terhadap sekat-sekat. Tapi apapun itu, nyatanya sudah kami lewati hampir setahun lamanya. Saya akhirnya bisa bertahan dengan benteng yang saya bangun. Dan dia pun sudah beberapa kali menemukan tempat-tempat baru. Satu hal yang masih tetap bertahan dalam diri "kami" adalah saya dan dia masih menyediakan tempat untuk masing-masing. Meski harus saya akui bahwa akan ada pengikisan proporsi di dalamnya. Harus saya terima sebagai sebuah kompensasi.
Tapi selalu saya kirimkan doa untuk kebahagiaannya. Sekalipun akhirnya harus saya terima jika seandainya sudah tak lagi tersisa tempat disana. 

Minggu, 13 April 2014

Fase Jenuh

Ini mungkin jadi sebuah kepingan dari cerita lain. Karena ruang ini adalah ruang yang saya jadikan tempat untuk menyimpan batas-batas yang sekiranya belum tertembus ruang lain, maka akan ada bagian yang jadi keluar batas dan masuk ke ranah yang agak dalam. sebagian akan terasa membosankan. Tapi jika saya pikirkan lagi, bukankah hidup pun sama demikian. Kadang akan ada bagian yang menjadi sangat menjemukan. Bahkan udara yang bisa jadi terasa sangat, sangat, dan sangat jenuh. Salahkah udara? tentu tidak.

Saya mungkin jadi telah, dan sedang berada dalam bagian itu.Jenuh. Jemu. Bosan. Terhadap apapun. Jika dilihat dari latar belakang saya sendiri, seharusnya tak ada hal yang akan membuat bosan. Rutinitas kerja sebagai seorang pendidik saya lakoni bersama orang-orang menyenangkan. Lalu berkecimpung dalam kegiatan di luar rutinitas kerja, bergaul dengan banyak remaja dalam kegiatan olahraga. Yang sekali waktu akan memberikan lingkungan berbeda dengan tempat kerja. Bukankah itu tak akan menjadi membosankan? Tapi, sebanyak apapun saya menghirup udara yang berbeda, sebanyak apapun lingkungan yang saya selami, tetap saja akan ada fase 'bosan'.

Semuanya terasa teramat datar. Fluktuasi menghilang. Kaki yang menjejak tanah terasa mengambang. Tanpa sebab yang bisa saya jelaskan. Hanya terjadi begitu saja. Jika boleh diibaratkan, seperti kamar yang kehilangan sakelar lampu. Setiap kali berdiam di satu tempat, tak sampai 5 menit segera ingin beranjak ke tempat lain. Kamar, rumah, bukan lagi jadi tempat yg membuat diri saya bisa berdiam lama. Dan karenanya saya menjadi sangat suka saat berkendara. Berpikir dan mengkhayal tentang berbagai hal di atas motor yang sedang melaju sedang menjadi hal yang menyenangkan bagi saya.

Sepertinya Tuhan sedang membuat saya tersadar, tentang fase yang pernah dialami oleh orang dekat saya terdahulu. Dulu saya tak pernah habis pikir tentang 'apa yang salah'. Pikiran saya tak pernah bisa terima apalagi menjadi paham. Bahwa jenuh kadang bisa membuat orang 'mati'. Dan itu mungkin yang dialami olehnya kala itu. Setelah sekarang terlewat beberapa tahun, akhirnya saya terpikir, ternyata saya hanya akan mengulang lalu dibuat sadar dengan ditempatkan pada posisi yang sama dengannya. Betapa egoisnya saya kala itu. Jika saya bayangkan sekarang, betapa tersiksanya. membuat pilihan berat. Lalu menanggungnya sendirian. Dia orang yang hebat, saya selalu percaya itu.
Lebih jauh berpikir, saya  juga mungkin akan ditempatkan pada posisi-posisi dia lainnya. Lalu mungkinkah ini sesungguhnya tautan karma?
Tiap titik yang ditempatkan pada saya, seperti sebentuk pengulangan untuk membuat saya paham tentangnya. Bahwa, apa yang saya pikirkan, hanyalah yang saya pikirkan.

Saya jadi ingin bertanya, beginikah yang dia rasa pada saat itu. Tak merasai apa-apa. Jenuh terhadap keseharian, merasa tak ada kejutan apa-apa. Segala yang dijalani seolah-olah hanya sebentuk maya. Saya merasa seperti tak ada yang harus dikejar. Tak ada yang mesti dituju. Pemenuhan hobi bahkan masih saya jalankan. Berkumpul dan tertawa-tawa dengan berbagai macam orang. Tapi tetap saja, semua terasa mengambang.

Saya tak ingin mengulang hasil yang sama. Saya juga tak ingin menjadi orang yang sama. meski saya harus berada pada posisi yang pernah dialaminya, saya hanya harus paham dan tersadar, bukan untuk menghasilkan hal yang sama. Dia masih menjadi orang dekat saya (setidaknya dalam tempat yang saya simpan). Saya selalu berdoa, jika pun ada tautan karma yang mesti kami selesaikan, semoga dia tidak membuang waktunya untuk sadar terlalu lama. Semoga saja. Selalu saya doakan untuk bahagia yang ia dambakan, nyaman yang selalu dia kejar.

Sabtu, 12 April 2014

Jejak-Jejak



Awan berarak diatas kepala. Anginnya masih sama seperti ketika ia meninggalkan jejak-jejak langkahnya disana. Tak pernah ia bayangkan akan sekali lagi ia dengan pikirannya bahwa ia dapat segera kembali. Menebar lembaran-lembaran menjalar. Seperti ketika matahari yang pernah ia pandangi sama. Matahari yang juga pernah membutakan matanya.

Re masih disana. Menelusuri, menebak-nebak jejak yang masih menjadi sisa ketika ia tak lagi menyisa. Tak lagi ada yang ia temukan. Matanya telah jadi buta. Beberapa waktu yang telah berlalu menyisakan butiran-butiran pasir yang melekat di dalam kelopak matanya. Ia tak pernah sekalipun membuka kelopak mata setelahnya. Mungkin karena rasa perih yang tak bisa dia kira. Atau, mungkin karena air mata menahan bola matanya untuk menyemai cahaya.

Ia masih disana. Menghadapkan punggungnya pada hamparan langit tanpa tepi.  Mungkin Re sengaja menemui sepi. Lalu akan ia tuliskan ribuan kata pada tinta-tinta yang ia bawa sendiri. Tak pernah selembarpun terlewatkan darinya untuk ditulisi. Karena hanya itu yang membuat ia dekat dengan dirinya sendiri. Sesungguhnya Re tak pernah sendiri. Tapi hanya saja saat ingin bertemu dengan sepi ia selalu datang sendiri. Menempatkan dirinya tepat dihadapan sepi. Benar-benar dihadapan sepi.  Bercerita kepadanya tentang kata yang baru saja ia tulisi. Mengisi telinganya dengan cerita-cerita yang baru saja ia hadapi.


“Bagaimana kabarmu sepi? Kau pasti sering bertanya-tanya mengapa aku selalu datang kemari. Meski tak sekalipun aku tahu bagaimana rupa dan parasmu. Aku hanya akan tetap datang kemari. Kamu tak akan keberatan bukan? Aku hanya akan menumpangkan kata-kataku kepada angin untuk disampaikan kepadamu”


Awalan yang selalu Re gunakan untuk menyapa sepi. Selalu dalam waktu yang ia biarkan berlalu disebelahnya. Sepi, adalah yang menurut Re paling mengertikan dirinya. Yang akan selalu menyiapkan tempat untuknya. Yang juga akan menyiapkan gambaran tentang kabar cahaya yang pernah membutakan matanya.


Sepi, bagaimana kabarnya hari ini? Apa cahayanya masih sama? Ia pernah memberitahuku bahwa cahayanya tak akan pernah jadi berbeda. Itu akan selalu sama. Adakah ia memberitahumu juga? Betapa lucunya dia, bukan? Cahanyanya selalu akan membuatmu tertawa. Coba saja kamu berkata kepadanya, akan kamu dengarkan merdu suaranya dalam lantunan kalimat lantang. Itu dia, memang dia. Ia masih tetap disana, bukan? Jangan pernah kamu kira ia sombong. Ia hanya mandiri, menebar apa yang ia punyai. Ia sesungguhnya hanya ingin bertemu kamu, sepi. Ia hanya tak ada yang memahami. Bahwa ia dalah ia yang inginkan tempat menepi sesekali.”


Re sangat tahu, bahwa tak ada tempat selain tempat ini yang akan mengerti tentang ceritanya. Tak akan ada tempat lain yang bisa ia titipkan cerita-ceritanya. Re benar-benar tahu tentang hal itu. Sama seperti yang ia tahu bahwa tak ada arah angin yang akan sama. Juga tak akan ada titik dalam awan yang menempati tempat yang sama. Dan karenanya Re membiarkan angin mengantarkan kata-katanya kemana saja. Re telah lama berdamai dengan buta yang ia pilih untuk dirinya. Dengan dingin angin yang selama ini meminjamkan tumpangannya. Tapi Re, tak pernah sadar bahwa berdamai menjadikan dunianya datar.


Aku titipkan ini kepadamu. Kepada ruang yang kamu pinjamkan. Aku tumpangkan lagi pada angin kali ini. Lewat deru yang kadang akan membuatmu ragu. Mungkin telah berulang kali aku ceritakan kepadamu. Tentang warna yang tanpa sengaja ia buat. Tentang pilihan yang mesti aku tetapkan. Dan yang juga ia tetapkan. Tentang siluet yang mencoba aku simpan dalam kebutaan. Aku tak akan pernah meminta jejak yang sama yang akan dibuatkan. Hanya simpankan saja tentang warnanya yang selalu akan sama. Tentang cahaya yang kamu kata, senja.”


Angin kali ini menderu di telinganya. Tapi Re tetap bergeming di tempatnya. Entah apa yang telah ia lihat dalam kebutaannya. Senyum selalu ia bawa. Jejak kaki nya mulai meniada. Pasir-pasir tak lagi tertahan oleh tubuhnya.  Hanya kata-kata di udara yang menyisa.


Angin, aku titipkan sekali lagi. Hanya sekali lagi. Simpan saja disana, di tempat sepi berada. Seperti biasanya. Lalu sampaikan kepadanya, tentang kata yang hanya menggantung di udara. Dan akan aku ceritakan segera, tentang yang aku simpan padanya begitu lama. Iya, dan ini hanya kepadanya. Lalu biarkan aku berdiam sementara. Karena dunia nyatanya mulai jadi sangat gelap. Aku hanya akan pergi sementara. Ke tempat sepi menyisakan tempatnya untukku berdiam lama. Di ‘sana’.


Tak ada yang menyisa. Seperti kata-kata yang Re gantungkan di udara. Hanya kata-katanya. Bahkan bayangan telah ikut bersamanya.

Selasa, 08 April 2014

Kedatanganmu


Angin menderu ditelingaku. Belum juga habis pikirku. Membaca lalu membayangkan apa yang kau tuliskan malam itu. Kau pastikan dirimu telah menapak sekali lagi, kepada tanah yang jadi sama dan bukan lagi udara.
Kalimatmu sederhana, sesederhana yang pernah aku katakan kepadanya, tentang kamu. Tak bisa habis aku bayangkan. Apa yang sekiranya kamu tunggangi hingga beraninya bumi membiarkan kakimu menjejak lagi dan bukannya udara.

Saat itu masih gelap, saat nyaris terlelap kamu sampaikan kalimatmu ke tempatku. Kalimat girang berlomba untuk pulang. Dan saking banyaknya yang ingin keluar, hanya sederhana yang mampu aku sampaikan. Aku jadi semakin penasaran. Apa kiranya yang akan kalian bicarakan. Saat malam membuat kalian membagi tempat tidur bersama. Apa kiranya yang akan kalian lakukan, saat siang memaksa kalian membagi ruang untuk berganti. Adakah aku bersyukur kalian telah menjadi kalian?

Lalu dengan tiba-tiba giliran datang padaku. Siang yang bersamaku kala itu membawakan penasaran tanpa tahu malu. Deru kendaraan yang tak tentu, dan tak terduga akan ada kamu. Klakson memanggilku. Rasa Penasaran mendorongku. Itu kamu? Kalian? Lalu aku.

Seandainya, waktu akan membagikan sedikit ruang untuk aku bersama dengan keinginanku. Harap yang sekiranya pernah aku simpankan begitu lama. Mengamatimu berjalan, lalu beriringan. Angin, matahari, pohon-pohon. Dan nyatanya, hanya dengan demikian. Hanya dengan sekilah menderu yang membiarkan aku menumpahkan penasaranku.

Telingaku mendengar. Lalu mataku mencari-cari untuk bisa melihat. Aku, melihat kamu berlalu. Angin masih saja menderu. Ada tawa yang hanya sekilas aku tahu. Tawa renyah tentang kalian, bercampur aduk membaur bersama suaramu. Terkejutkah kamu? Benar, itu memang kamu.
Dunia memang telah membelah-belah serupa beberapa bagian. Bagianku lalu bagian kamu. Kalian. Sudah terbelah dalam riuh yang membeda. Waktu yang berlari beberapa saat itu telah membelah aku juga duniaku. Ada banyak kata yang tak akan lagisampai padamu. Akan ada banyak kata pula yang tak akan lagi aku dengar darimu. Ini duniaku. Aku telah dalam duniaku. Lalu bersama mereka dalam duniaku.